Belajar dari Sosok Bahadir Bargin

20 Maret 2009

Tulisan ini merupakan tulisan bersambung yang telah diterbitkan oleh eramuslim.com pada tahun 2007 dalam edisi Laporan Khusus. Isinya sangat menggugah hati, penuh hikmah dan betapa keshalehan seorang pemuda tampan bernama Bahadir Bargin dapat menjadi pelajaran bagi kita sebagai generasi muda. Tolong siapkan tissue jika Anda akan terus membacanya.

PERJALANAN kami ke Turki dalam rangka menghadiri Konferensi Al-Quds Internasional, 15-17 November kemarin menyisakan banyak catatan dan pengalaman yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Asy-Syahid Dr. Abdullah ‘Azzam di dalam Risallah Jihadnya menyebut Turki sebagai ‘Pelita Yang Hilang’. Dengan goresan penanya yang tajam menyayat kalbu, Abdullah ‘Azzam menulis dengan tetesan airmata mengabarkan tentang kisah padamnya cahaya Islam di pintu gerbang benua Eropa, lebih 90 tahun silam. Walau demikian, ‘Azzam tetap optimis, “Dengan izin Allah SWT, saya yakin, suatu saat Turki akan kembali ke pelukan Islam. Cahaya Islam akan kembali bersinar benderang, bahkan sinarnya akan berkilau lebih indah dan terang dari sebelumnya…”

Kini, doa dan harapan dari salah seorang mujahid terbaik sepanjang masa itu, perlahan mulai diijabah Sang Khaliq. Walau pelan, fajar Islam mulai menyingsing. Cahayanya yang damai menenteramkan hati mulai menyapu pucuk-pucuk dedaunan negeri yang pernah menjadi benteng terakhir bagi Al-Quds ini. Bagai embun yang senantiasa memberi nafas kehidupan.

Turki yang wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia barat Daya hingga ke daerah Balkan di Eropa Tenggara tengah berjalan pasti kembali kepelukan Islam. Seperti halnya mentari, yang pasti kan terbit menerangi bumi setiap hari.

Ada banyak catatan yang kami toreh dalam muhibah di negara yang berada di kawasan Eurasia ini. Catatan tentang pengharapan dan doa. Tentang teladan seorang pemuda shalih yang amat jarang bisa kami jumpai di Indonesia yang bangga dengan stempel ‘Negeri Muslim terbesar dunia’. Tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya berkiprah dan berkhidmat kepada Islam, umat-Nya, dan negara. Tentang kegigihan para Muslimah Turki yang sedemikian kokoh mempertahankan identitas Islam di balik segala kelembutan dan keelokannya.

Allah SWT telah memberikan Islam sebagai jantung dan darah bagi bangsa Turki. Sebab itulah, sekeras apa pun upaya musuh-musuh Allah untuk menjauhkan Islam dari Turki, maka kejahatan itu akan senantiasa menemui kegagalan. Fitrah Turki adalah Islam. Inilah sepenggal catatan kami dari Turki, di sela-sela mengikuti Al-Quds International Forum, 15-17 November 2007.

Pemuda Pendiam dari Masjid nan Lengang

Rabu, 14 November 2007. Hari telah gelap. Roda pesawat terbang yang telah membawa kami melintasi Samudera Hindia telah berhenti di ujung landasan Bandara Kemal Attaturk, Istambul, Turki. Pintu pesawat pun telah terbuka. Diiring senyum ramah kru pesawat, kami pun keluar beriringan, bagai sekawanan semut yang kelelahan setelah menempuh perjalanan belasan jam. Kami langsung menuju hotel di mana kami akan menginap selama berada di negeri ini.

Menjelang Subuh, kami keluar hotel dan mampir ke sebuah kedai roti khas Turki yang buka selama 24 jam. Tak lama kemudian adzan Subuh bergema, bersahut-sahutan dengan teramat indah dan syahdu memenuhi cakrawala pagi di istanbul. Konon, tak kurang dari 3. 000 masjid jami (bahasa Turki: camii) dan surau (mesjit) di kota bersejarah ini memperdengarkan adzan. Di kota ini, 600 masjid di antaranya merupakan masjid tua peninggalan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah yang dibangun sekitar tahun 1300 hingga awal abad ke-19.

Adzan yang kami dengar berbahasa Arab! “Mustafa Kemal Attaturk telah gagal…,” bathin kami. Betapa tidak, puluhan tahun silam, tatkala tokoh Yahudi Dumamah ini menguasai Turki dengan menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, salah satu upaya Mustafa Kemal untuk mensekulerisasikan Turki adalah dengan melarang penggunaan adzan dalam bahasa Arab dan menggantinya dengan bahasa Turki. Namun apa yang kami dengar pagi ini sungguh-sungguh melegakan hati. Adzan berbahasa Arab telah kembal bergema di seantero Istanbul. Mustafa Kemal telah gagal…

Kami segera menuju sebuah masjid camii yang berada dekat dengan hotel tempat kami menginap di daerah Taksim, Istanbul. Udara pagi nan dingin membuat kami harus ekstra merapatkan pakaian hangat yang kami kenakan. Di pintu masjid, seorang pemuda setempat dengan sangat ramah menyambut kami. Dengan sangat sopan dia yang mengetahui kami merupakan rombongan tamu, langsung membimbing kami untuk mengambil kantong yang disediakan dan memasukkan sepatu yang kami pakai di dalamnya. Kantong itu kemudian disimpan di dalam loker. Pemuda itu juga menuntun kami ke tempat wudhu.

Jarang ada orang Turki kebanyakan yang bisa berbahasa Inggris. Karena mereka konon sangat bangga dengan ke-Turki-annya sehingga puas hanya bisa berbahasa Turki dan mengenyampingkan mempelajari bahasa lainnya. Namun pemuda itu yang memperkenalkan diri sebagai Bahadir Bargin, 24, ternyata bisa berbahasa Inggris.

Di dalam masjid yang cukup besar, kami hanya menjumpai sedikit warga setempat yang hendak menunaikan Subuh di rumah Allah ini. Bahkan jumlah rombongan kami dari Indonesia ini lebih banyak dibanding jumlah penduduk lokal di masjid ini. Kondisi sholat subuh berjamaah di Indonesia sedikit lebih baik dibanding negeri ini.

Bisa jadi, disebabkan berpuluh tahun silam penguasa Turki menjejalkan sekularisme di Turki, maka kondisi Subuh di negeri ini berbeda dengan kondisi Subuh di Indonesia. Jika suasana Subuh di masjid-masjid di tanah air ramai dengan suara dzikir dan shalawat yang diperdengarkan lewat pengeras suara, tidak demikian dengan apa yang kami alami di Istanbul. Suasananya begitu syahdu. Para hamba Allah dengan khusyuk berdzikir dengan hatinya, bukan dengan lidahnya. Yang tengah tilawah pun demikian. Asyik dengan kesunyian yang menggetarkan dawai-dawai di hati mendendangkan senandung keabadian.

Bahadir Bargin, pemuda yang baru kami kenal itu, duduk dan begitu khusyuk tilawah Al-Qur’an. Wajahnya yang bersih memancarkan kedamaian. Entah mengapa, kami tertarik untuk mengenalnya lebih dekat. Kami menanyakan apakah dia sudah bekerja. Dia mengangguk namun mengatakan bahwa hari ini libur. Kami akhirnya sepakat untuk bertemu kembali di satu tempat setelah agak siang untuk berkeliling kota Istanbul.

Pada waktu yang telah kami sepakati, Bargin ternyata telah menunggu kami di tempat yang kita ditentukan. Dia seorang pemuda yang bisa menepati janji dan on-time. Kami tawarkan agar segera memanggil taksi untuk bisa berkeliling Istanbul, tapi dia menolak dengan halus dan mengatakan lebih baik menyusuri kota dengan berjalan kaki. Jadilah kami menyusuri kota bersejarah ini dengan berjalan kaki.

Ketakjuban kami kepada pemuda tersebut ternyata belumlah usai. Kami tidak enak hati jika tidak memberikan apa pun terhadap pemandu kami ini. Kami merasa sangat berhutang budi padanya. Diam-diam, kami memasukkan sejumlah uang ke dalam saku baju hangatnya.

Kota Istanbul terletak di 42 derajat lintang utara. Pada bulan November, daerah ini memang cukup sejuk, sedikit lebih dingin dibanding berada di kawasan Puncak-Bogor saat malam. Terlebih lagi pada hari itu, Kamis (15/11), hujan rintik-tintik turun membasuh jalan kecil yang banyak terdapat di daerah Taksim, Istanbul. Walau cuaca sedikit kurang bersahabat, Bahadir Bargin ternyata tetap datang tepat pada waktunya. Pemuda pendiam dengan tinggi sekitar 175 centimeter tampak mengenakan baju hangat dan topi kupluk berwarna hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.

Dengan senyum yang penuh keikhlasan, Bargin menyambut kami di depan hotel tempat kami menginap. Tadinya kami ingin menumpang taksi untuk menjelajahi kota Istanbul, tapi pemuda itu dengan halus menolaknya. “Lebih baik kita berjalan kaki saja,” ujarnya. Jadilah kami berjalan bersamanya di menyusuri jalan-jalan kecil yang disusun dari con-block selebar lebih kurang lima meter yang tersusun dengan rapi.

Sepanjang perjalanan, sambil menerangkan hal-hal yang menarik di Istanbul, seorang Bargin selalu saja menyempatkan diri untuk memungut apa saja yang bisa mengganggu pejalan kaki seperti kami ini dari jalan, seperti paku dan kerikil tajam, dan membuangnya ke tempat yang aman. Dia melakukannya dengan sangat ringan, sesuatu hal yang sudah sangat biasa dikerjakannya. Kami teringat salah satu hadits Rasulullah yang kalau tidak salah menerangkan bahwa menyingkirkan duri dari jalan sudah termasuk perbuatan ibadah yang akan mendapatkan pahala.

Dalam perjalanan kami juga menanyakan sejumlah hal tentang dirinya. Salah satunya adalah mengapa di usianya yang sudah cukup matang untuk berumah tangga, dia masih saja betah untuk melajang, padahal muslimah Turki terkenal kecantikannya. Dengan tersenyum simpul Bargin menjawab, “Untuk hal itu, biarlah Allah yang akan memilihkannya untukku…” Subhanallah…

Bargin ternyata cukup hafal dengan kota ini. Dalam perjalanan, dia selalu membawa kami ke masjid terdekat pada jam-jam sholat, tepat pada waktunya. Tanpa sepengetahuan kami, ternyata Bargin juga selalu menjaga wudhunya. Dan yang membuat kami miris, mungkin juga malu, bahwa ‘pemandu’ kami itu ternyata juga tengah berpuasa, puasa Daud. Setahu kami, di negeri kami saja tidak banyak aktivis Islam yang melakukan puasa jenis ini, satu hari puasa, satu hari tidak, berselang-seling. Namun di negeri yang mendewakan prinsip sekularisme seperti di Turki ini, di mana sekulerisme menjadi prinsip utama Konstitusi Negara, seorang pemuda masih setia menjalankan puasa Daud. Kami lagi-lagi takjub.

Saat kami sudah kepayahan berjalan kaki menyusuri jalan demi jalan di kota bersejarah ini, kami mengajak pulang dan hendak memanggil taksi. Namun lagi-lagi Bargin menolaknya, “Naik bus jauh lebih baik.” Salah satu alasannya, naik taksi di Turki sangat mahal ongkosnya, untuk balik ke hotel yang kira-kira sejauh lima kilometer saja penumpang harus merogoh uang sekitar US$200! (setara dengan Rp 1.800.000,- dengan kurs dollar Rp 9.000,-). Namun dengan bus, kita hanya diminta membayar 5 sen untuk tiap penumpang. Jadilah kami naik bus.

Bus yang kami tumpangi melewati daerah tempat tinggal Bargin. Agar tidak terlalu merepotkannya, kami mempersilakannya untuk turun meninggalkan kami. Toh, kami sudah tahu jalan pulang. Tapi lagi-lagi seorang Bargin bukan seorang pemuda Turki yang kami kira. Dengan masih tersenyum dia menjawab, “Saya menjemput Anda di depan hotel, maka saya akan mengembalikan Anda di tempat kita bertemu tadi pagi.” Ya Allah, kami sungguh-sungguh surprise padanya. Betapa di usia yang masih muda tersebut Bargin mampu menjadi seorang tuan rumah yang amat sangat baik terhadap tamunya, sesuai dengan akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Ketika kami ingin memberinya uang sebagai bentuk penghargaan kami atas jerih payahnya, yang rela menjadi pemandu dadakan kami dengan berjalan kaki, padahal dirinya tengah berpuasa, lagi-lagi Bargin menolaknya.

“Saudaraku,” ujarnya halus. “Saya tidak pernah sedikit pun mengharapkan uang Anda. Saya hanya ingin Anda mendoakan saya. Saya hanya berharap pada Allah semata.”

Terus terang, jika tidak malu, saat itu kami ingin menangis. Kami sungguh-sungguh bangga dengan pemuda shalih yang satu ini. Kami tersentuh dengan keikhlasan yang benar-benar keluar dari lubuk hati yang paling dalam, yang hanya bisa dimiliki oleh seorang manusia yang lurus keimanan dan ketauhidannya. Ahh, di Indonesia saja yang bangga dengan sebutan negeri Muslim terbesar dunia, mungkin mustahil bisa menjumpai orang seikhlas dan sesholih dirinya. Mungkin kami salah, tapi sungguh kami belum pernah menemui hal yang sama di tanah air kami sendiri.

Ketakjuban kami kepada pemuda tersebut ternyata belumlah usai. Kami tidak enak hati jika tidak memberikan apa pun terhadap pemandu kami ini. Kami merasa sangat berhutang budi padanya. Diam-diam, kami memasukkan sejumlah uang ke dalam saku baju hangatnya.

Namun tindakan yang menurut kami dilakukan dengan sangat hati-hati ternyata diketahuinya. Sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangan, Bargin berkata, “Saudaraku, jangan melakukan hal itu padaku. Ambillah kembali uang itu dari saku bajuku. Aku tidak ingin mengetahui jumlahnya, karena hal itu bisa jadi akan mengotori hatiku. Aku sama sekali tidak mengharapkan itu dari kalian, saya hanya berharap doa kalian, saya hanya berharap pada Allah. Ambillah kembali uang itu atau saya akan tetap berdiri di sini sebelum uang itu kalian ambil.”

Kami awalnya tidak mau mengambil kembali uang yang sudah berada di dalam saku baju hangat Bargin. Kami ikhlas. Kami berjalan menjauhi dirinya yang masih saja berdiri dengan mata ditutup. Namun setelah beberapa langkah berjalan, ternyata Bargin tetap berdiri dengan posisi semula. Kami akhirnya tahu bahwa pemuda itu tidak sedang main-main. Kami akhirnya kembali mendekatinya dan mengambil uang itu. Barulah Bargin membuka kedua matanya. Dengan senyum tulus dan mata yang teduh yang memancar dari wajahnya yang bersih, Bargin mengucapkan syukur dan berterimakasih.

“Saudaraku, doakanlah aku. Hanya kepada Allah aku mengharapkan sesuatu. Doakanlah agar kami di Turki ini bisa tetap menjaga agama Allah ini dengan baik. Hanya itu yang kami harapkan.” Kami benar-benar menangis di dalam hati. Kedua mata kami basah. Begitu haru mendengar penuturan pemuda yang satu ini.

Ya Allah, berikanlah perlindungan dan keselamatan bagi pemuda ini dan saudara-saudara kami yang dengan hati yang bersih, iman yang lurus, senantiasa menjaga agama-Mu di negeri yang terang-terangan memusuhi-Mu. Jadikanlah kami semua sebagai saudara di dalam agama-Mu, agar dapat senantiasa tolong-menolong di dalam kebaikan dan keimanan. Kabulkanlah Ya Rabbi…

Apa yang dia katakan sungguh-sungguh dia lakukan. Ini cerminan dari keimanan dan ketauhidan yang benar dan lurus. Kami sungguh ingin sekali belajar hal tersebut darinya.

Saat tiba kembali di hotel jarum jam telah menunjukkan pukul 8. 30 malam. Udara kian terasa menusuk tulang. Setelah membersihkan badan, kami langsung beristirahat di pembaringan. Sambil tidur-tiduran, otak kami memutar kembali memori sebuah pengalaman yang sungguh-sungguh luar biasa yang terjadi hari ini. Sebuah perjalanan mengelilingi kota bersejarah Istanbul yang benar-benar sukar untuk dilupakan begitu saja. Kami telah mengunjungi dua makam sahabat Nabi SAW, yakni Vehb bin Hiiseye (Wahab bin Husay) dan Amru bin Ash r.a., dan tempat-tempat bersejarah lainnya.

Lalu muncul memori tentang seorang Bahadir Bargin. Pemuda Turki berusia 24 tahun yang sungguh-sungguh istimewa. Kami benar-benar terharu dan kagum, sekaligus malu, dengan segala keikhlasan, keimanan, kejujuran, dan segala hal yang dimilikinya. Ya Allah, jagalah pemuda tersebut agar senantiasa berada dalam lindungan dan kasih sayang-Mu…

Doa, betapa pentingnya doa bagi seorang Bahadir Bargin. Sehingga dia menolak segala pemberian dari kami, menolak ajakan kami untuk berbuka puasa di restoran dan memilih berbuka dengan hanya tiga teguk air tawar sembari berkata, “Saudaraku, saya sungguh-sungguh tidak ingin merepotkan Anda sekalian. Terima kasih saya haturkan. Namun biarlah nanti saya makan sekembalinya saya di rumah, setelah mengantarkan kalian semua ke hotel dengan selamat.”

Apa yang dia katakan sungguh-sungguh dia lakukan. Ini cerminan dari keimanan dan ketauhidan yang benar dan lurus. Kami sungguh ingin sekali belajar hal tersebut darinya.

Selain ruhiyahnya yang begitu bersih, fisik seorang Bahadir di mata kami juga amat istimewa. Dalam perjalanan pulang, kami sudah kelelahan. Langkah kami sudah tidak teratur. Kami berjalan sudah menyeret kaki dengan gontai. Benar-benar lelah. Namun Bahadir ternyata tidak sedikit pun terlihat letih. Pemuda itu masih gagah berjalan seperti pagi hari ketika kami memulai perjalanan ini. Gaya berjalannya tidak berubah, mantap dan cepat bagai orang yang tengah berjalan di jalanan yang menurun. Kami lagi-lagi tersenyum.

Di dalam bus ketika pulang menuju hotel, kami membayar ongkos semua anggota kami termasuk ongkosnya Bargin. Sesuatu yang bagi kami sangat biasa dan sama sekali tidak pernah kami ingat. Namun tidak demikian bagi pemuda tersebut.

“Saudaraku,” ujarnya. “Kalian telah berbaik hati membayarkan ongkos bus saya. Namun sekali lagi, saya sungguh-sungguh tidak ingin merepotkan kalian. Kalian adalah tamu saya yang seharusnya saya jamu, namun maafkan segala keterbatasan saya. Besok pagi, saya akan mengembalikan ongkos bus yang telah kalian bayarkan. Saya berhutang pada kalian.”

Mata kami kembali berkaca-kaca. Kami menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri bahwa Bahadir memang tidak memiliki uang. Dia sempat membuka dompetnya mengorek-orek isinya, namun tidak ada yang didapatkannya. Namun walau demikian, dia sungguh-sungguh seorang tuan rumah yang amat baik bagi kami semua.

Mendengar Bahadir ingin mengembalikan uang ongkos bus yang tidak seberapa, kami menolaknya, “Jangan saudaraku, kami ikhlas dan itu sesuatu yang sangat biasa bagi kami. Itu bukan hutang.”

Namun Bahadir menggeleng pelan sembari tetap tersenyum. “Seharusnya saya yang membayar ongkos bus kalian semua.”

Esok paginya, saat Subuh berjamaah di masjid yang sama, kami bertemu lagi dengan Bahadir Bargin. Kami sungguh telah melupakan soal ongkos bus kemarin, tapi tidak demikian bagi seorang Bahadir Bargin. Saat bertemu, dengan wajah gembira dia mengembalikan sejumlah uang receh kepada kami seraya mengucapkan terima kasih. Kami yang sedikit banyak telah mengetahui tentang pemuda tersebut mau tak mau menerima “pembayaran utang” darinya. Padahal, seharusnyalah kami yang harus merogoh kocek untuk membayar jasa-jasanya mau menjadi pemandu perjalanan kami di Istanbul. Kami lagi-lagi geleng-geleng kepala. Ya Allah, ternyata masih ada hamba-Mu yang teramat shalih di dunia ini… Terima kasih ya Allah, Engkau telah mempertemukan kami dengan seorang hamba-Mu yang shaleh sehingga kami bisa belajar banyak darinya…

Iklan

2 Responses to “Belajar dari Sosok Bahadir Bargin”

  1. Rizky Says:

    Subhanallah… Saya ingin bertemu pemuda itu…

  2. evi Says:

    asslmkm. tolong, jika tahu saya dikasih emailnya bahadir bargin. saya sudah cr profilnya tdk bisa ditemukan. trmksh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: