Hari Raya dan Penetapan Ru’yah

2 Januari 2007

Dengan datangnya Idul Adha di Indonesia, ada sekelompok orang yang bersikeras bahwa kita seharusnya mengikuti ketentuan hari itu dari pemerintah Arab Saudi. Setelah saya renungkan, saya mulai berfikir tentang alasannya kenapa mereka mau mengikuti pemerintah negara yang lain. Mereka menyatakan, kalau sudah masuk hari Idul Adha di Saudi, maka kita harus mengikuti negara Saudi. Hilal yang belum muncul di Indonesia sudah kelihatan di Saudi empat jam kemudian. Apakah kita mau mengikuti petunjuk Nabi (saw.) dan menetapkan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah?“Jika kalian telah memasuki hari raya, tanggal 10 Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim)

Karena Nabi (saw.) juga sangat jelas bahwa bulan yang menjadi patokan buat kita dan bukan pemerintah di negara yang lain.

“Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah (saw.) menjelaskan Ramadhan, maka beliau bersabda: ‘Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihatnya. Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kalau sudah jelas bahwa ketentuan dari Nabi (saw.) untuk Hari Idul Adha adalah melihat hilal untuk menetapkan awal dari bulan Dzulhijjah, maka jelas pula (atas sepakat ulama dan pemerintah) bahwa tanggal 10 Dzulhijjah di Indonesia pada tahun 2006 jatuh pada hari Minggu 31 Desember.

“Mereka bertanya tentang hilal-hilal. Katakanlah, itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan untuk haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Melakukan sholat dan berkurban pada hari Sabtu tanggal 29 Desember, dan bukan hari Minggu, adalah penyimpangan dari contoh Nabi (saw.) karena Nabi (saw.) tidak melakukan sholat dan kurban pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Kalau ada kaum di Indonesia yang menyatakan bahwa hilal sudah kelihatan di Arab Saudi, dan dengan demikian kita wajib mengikuti mereka, maka saya ingin bertanya kenapa kaum itu pelit sekali dan hanya mengikuti peredaran bulan dari pandangan Saudi? Kenapa tidak pula mengikuti peredaran matahari dari pandangan negara Arab Saudi?

Bulan dan matahari sama-sama ciptaan Allah. Kalau bulan hanya mau dipandang dari posisi Arab Saudi di permukaan bumi maka kita bisa berpuasa dan berkurban tanpa harus melihat hilal di Indonesia .

Kenapa tidak juga mengikuti waktu sholat wajib dari posisi matahari sesuai dengan pandangan negara Arab Saudi? Kalau waktu Subuh di Indonesia adalah jam 4 pagi, maka di Saudi masih jam 12 malam. Supaya waktu sholat kaum ini menjadi benar, seharusnya ditambah 4 jam di Indonesia menjadi jam 8 pagi WIB. Kalau orang itu ditanya kenapa dia melakukan sholat Subuh pada jam 8 pagi, maka dia cukup menjawab “Saya mengikuti hitungan matahari dari posisi negara Arab Saudi. Walaupun matahari sudah tinggi di sini, di Arab Saudi baru terbit, jadi itulah yang paling benar.”

Untuk kaum ini di Indonesia, Sholat Subuh seharusnya dilaksanakan pada jam 8 pagi, Sholat Dzuhur pada jam 4 sore, dan Sholat Maghrib pada jam 10 malam.

Barangkali itulah yang paling benar: menentukan hari dan jam dari peredaran bulan dan matahari yang kelihatan di Arab Saudi dan bukan di Indonesia.

Kalau ikuti bulan dari pandangan mereka, tanggal 10 Dzulhijjah jatuh pada hari Sabtu 30 Desember, dan bukan hari Minggu. Dan sekaligus kalau iktui matahari dari ketentuan Arab Saudi, maka sholat Idul Adha sebaiknya dikerjakan pada jam 11 pagi WIB karena Subuh baru mulai pada jam 8 WIB.

Lalu bagaimana dengan puasa Hari Arafah?

Dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi (saw.) shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”. (HR. Muslim)

Yang jelas di sini adalah anjuran untuk berpuasa pada Hari Arafah (wukuf) dan bukan anjuran untuk berpuasa pada tangal 9 Dzulhijjah. Apa bedanya? Wukuf di Arafah hanya bisa terjadi di satu lokasi dan pada satu hari. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah bisa terjadi di setiap negara dan pada tanggal (sekular) yang berbeda.

Bayangkan 200 tahun yang lalu – 1806 SM. Orang Indonesia tidak memiliki telfon untuk mengetahui ketentuan tanggal dari Arab Saudi. Jadi, yang wajar adalah mereka mencari hilal di sini dan menentukan tanggal 9 dan 10 Dzulhijjah (yang misalnya, jatuh pada tanggal 30 dan 31 Desember, tahun 1806). Mereka perkirakan bahwa wukuf sedang terjadi pada tanggal 30 Desember karena sama dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Kalau seandainya mereka salah, dan wukuf sudah terjadi di Saudi pada tanggal 29 Desember, maka sama sekali tidak munkgin untuk orang Indonesia mengetahui hal itu. Mereka perkirakan tanggal 30 Desember dan mereka sebenarnya salah, tetapi tidak dengan sengaja. Insya Allah sebuah kesalahan yang dilakukan dengan tidak sengaja akan dimaafkan Allah dan pahalanya akan tetap.

Zaman sekarang, kita bisa mengetahui dengan pasti kapan terjadinya wukuf di Arafah. Cukup kita telfon saja. Kita tidak perlu perkirakan lagi. Dan ternyata Hari Arafah jatuh pada Jumat tanggal 29 Desember, jadi kita disuruh Nabi (saw.) berpuasa pada hari itulah.

Tetapi Nabi (saw.) juga menyuruh kita berkurban pada tangal 10 Dzulhijjah, dan bukan pada “hari apa saja yang datang sesudah Hari Arafah”.

Jadi, secara logika, kita mengikuti Nabi (saw.) dengan berpuasa pada Hari Arafah (yang sekarang ketahuan dengan pasti jatuh pada tanggal 29 Desember) dan kita juga mengikuti Nabi (saw.) dengan berkurban pada tanggal 10 Dzulhijjah (yang jatuh pada tanggal 31 Desember di sini). Kenyataan bahwa ada satu hari kosong di antara hari ini disebabkan hari Arafah hanya bisa terjadi di Arab Saudi, sedangkan tanggal 10 Dzulhijjah terlepas dari Hari Arafah dan bisa terjadi di manca negara.

Kalau seandainya Allah menghendaki kita melihat hilal pada hari yang sama dengan Arab Saudi maka sesungguhnya itulah yang akan terwujud. Allah menghendaki yang lain. Kenapa kita berpecah-belah dan tidak menuruti ketentuan dari Nabi dengan lapang dada?

29. Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; (1) tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,

32. yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka (2) dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Surah Ar Rum QS: 30.29-32)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.

Penulis adala Gene Netto, seorang mu’allaf kelahiran Nelson, Selandia Baru (New Zealand). Masuk Islam pada tahun 1995 setelah melalui perjalanan rohani yang panjang dan sekarang menetap di Indonesia sebagai pengajar bahasa Inggris.

Iklan

3 Responses to “Hari Raya dan Penetapan Ru’yah”

  1. Adhipy Says:

    Yang saya mau tanya, hadits ini,“Jika kalian telah memasuki hari raya, tanggal 10 Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim) pada matan aslinya yang bahasa arab, apakah benar-benar ada disebutkan 10 Dzulhijjah?

    Karena saya sudah muter2 nyari hadits yang jelas-jelas menyebut 10 Dzulhijjah kok baru ketemu sekarang.

    Yang ada itu menyebutkan hari raya “Nahr” saja, dimana secara umum orang arab pada masa Rasulullah sudah memahami bahwa hari raya Nahr itu adalah 10 Dzulhijjah. Dimana 10 Dzulhijjah ini pun datangnya dari pemahaman bahwa hari raya “Nahr” itu adalah keesokan harinya dari hari wukuf di Arofah.

    Bisakah saya mendapat keterangan hadits ini ada di Buku Hadits Imam Muslim yang mana dan no berapa ?

    Terimaaksih.

  2. rp25rb Says:

    Maaf pak, saya sudah teruskan pertanyaan Bpk ke penulisnya, namun sampai sekarang belum ada jawaban sama sekali. Tapi maaf, menurut pendapat saya yang awam kira-kira begini: Hadits tersebut pada sanadnya tidak tertera kalimat 10 Zulhijjah seperti ditulis di atas. Mungkin dengan melihat sanad hadits tersebut, yg berisi tentang kurban, maka oleh penulis, diletakkanlah kalimat tersebut dengan maksud untuk menguatkan makna bahwa, hadits tersebut condong kepada masalah ibadah kewajiban kurban di hari raya idhul adha saja.

    Mohon maaf bila pendapat saya salah.

  3. Umroh ESQ Says:

    Ilmu dan pengetahuannya sangat bermanfaat ini, jadi nambah khazanah keislaman, terima kasih

    By : travel umroh terbaik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: